Langit kampus masih bergemuruh hari ini, jalanan basah, Sore pergi, malam menyambut, lampu-lampu bercahaya, kampusku berkabut, Salak anjing kurus mulai bersahut, bunyi jangkrik tetap menggelitik.
Saya masih ada di tempat sedia kala, dan dipanggil untuk kesekian kalinya. Raung gedung itu menyala, mahasiswa terpana. Merasa bagai sulur, tapi ingin tak menggangu, melingkar, dalam jerat tak teratur. Lihai sekali.
Sekali lagi saya lihat, kepala saya tepat mendongak, atas hijau dan kemegahan kini ada. Menyatu asa. Berlata ketua, penguasa segala budak boneka. kami ingin segalanya. Harta dan tahta. Serentak suara bersahut, saya tiada ciut, berkata, semua untuk kita, dan begitu pula sebaiknya. Budak dan boneka masih mencicit meminta keju yang makin basi dimakan ulat.
Memilah kata, tenggorokan tercekat, membiarkannya keluar, membahana. Jutaan batu, tertindih, meski kecil, ia bagai buih. Saya menggertak, tiba2 saja semua menguap, menguap dan menguap. Tertelan peristiwa alami tak terjangkau yang kian langka terjadi. Rokok tetap mereka hisap dalam jelata gerutu manis mencekik. Sang pemimpin buncit melenggak berlalu.
Dan dulu, mungkin juga kini, pun, wakil-wakil berteriak. Menyeruak. Mereka ingin sulur ditebas, mereka ingin mega dihambat, apa seperti itu? Dan kepada saya? Ya, mungkin hampir sama. Tak apa, wakil itu baik, hidup dalam idealisme yang tak tahu sampai kapan digapai.
Tangan saya lelah menggenggam, mulut saya capai, menggeram, berlalu santai. Sampai hingga kini menjadi malam, kampusku masih berkabut, dalam pasak-pasak ego dan kapital yang menancap erat, kuasa dan mewah sebagai alat ampuh membumbui. Saya tak tahan untuk si buncit turun, menunduk saat semua kabut kian menipis, saat kabut semakin hilang.
Dan tempat tinggi itu kian berkabut, belum hilang, belum menguap, hingga sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar