Bermula ketika saya mampir sejenak untuk membeli minum di sebuah warung kecil di daerah pinggiran jakarta. Kira2 sore menjelang malam, waktu pulang kerja, kendaraan dan manusia lalu lalang dengan tujuannya masing masing. Sementara di tengah keadaan tersebut duduk seorang ibu berusia empat puluh tahunan bersandar di pohon dan duduk di trotoar. Raut wajahnya sangat sedih, memang terlihat bulir air mata mengalir dari kedua matanya, penampilannya pun lusuh, tangannya tertatih tak henti menggaruk jalan dan tangan yang satunya mengulur tepat ke jalanan. Beliau tidak mengemis, namun sangat terbaca dalam gurat mukanya beliau meminta pertolongan. dari sekian banyak orang dan kendaraan yang melintasinya, tak ada satupun yang menegur, menanyakan apa, siapa dan darimana. Keadaan tetap tak bergeming untuk iba kepada sang ibu tersebut. Mereka sibuk dalam tujuannya masing masing.
siapa yang harus bertanggung jawab atas keadaan diatas? Pemerintah? Apa dengan kebijakan yang dikeluarkannya mampu mengubah keadaan golongan masyarakat seperti ibu tersebut? Lalu bagaimana dengan pengusaha? Apa dengan jargon untuk kebaikan semuanya dapat mengembalikan tawa masyarakat yang sedang menderita? Dan golongan yang terpelajar? Apakah dengan berbagai teori dan doktrin yang disampaikan oleh guru maupun dosen saat di kelas dapat menggugah hatinya untuk dipakai sebagai acuan moral? Dan masyarakat yang menderita itu sendiri, dapatkah mereka kembali melihat kebawah ketika suatu saat keadaan yang dialaminya berubah menjadi serba menyenangkan? Apakah semua golongan tersebut masih peduli jika derita sesamanya mengganggu aktifitas hidupnya sehari hari?
Sadar atau tidakkah kawan? Kita telah mengalami berbagai penurunan, dalam bidang apapun, perubahan yang cukup signifikan datang, hadir dan terus menyerap ke dalam masyarakat kita. Mulai dari perubahan kebiasaan, sikap, dan lingkungan. Tak bisa dipungkiri bahwa ada yang salah dari masyarakat ini. Individualisasi berkembang, mewabah di seluruh negeri. Semua daerah seakan menjadi epidemi. Semua berfikir utuk kehidupannya sendiri. Tengoklah sejenak pada konteks pendidikan, ketika masih di bangku sekolah kita terus Ditanamkan nasihat oleh sebagian besar pengajar, “nak, belajarlah kalian dan gantungkanlah cita cita kalian setinggi langit agar bisa sukses nantinya. ” mengapa bukan nasihat seperti “belajarlah kalian yang rajin agar masyarakat ini bisa kalian rubah ke arah yang lebih baik,”. Apakah kata kata itu menjadi tidak laku untuk diberi sebagai nasihat? Apakah dengan kata-kata tersebut kita menjadi tidak mau belajar? Dan apakah serta merta dengan kata sukses bagi diri sendiri dapat berpengaruh positif bagi orang lain?
Pandangan yang ada saat ini adalah Tidak belajar, berarti tidak dapat pekerjaan, tidak kuliah berarti tidak dapat pekerjaan, tidak sarjana berarti tidak sukses nantinya. kita semua seperti mengalah dan tunduk pada realita yang ganas. lihatlah di berbagai universitas, yang menjadi jurusan favorit adalah jurusan yang terkonsentrasi pada profesi (bukan bermaksud mendiskreditkan jurusan tertentu, tapi saya hanya menilai dari yang saya lihat), semua orang takut tidak mendapatkan pekerjaan. Semua tertuju pada pembangunan individu mereka sendri, semua aktifitas mereka tertuju pada perkembangan terhadap manfaat pribadi. suatu keadaan yang sangat miris bagi saya sebagai orang yang terus berada dalam dinamika masyarakat yang semakin menurun seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar