Menyanyilah, bebaskanlah
setiap alur simfoni ekspresi, buatlah ia berkata
siapkanlah tuts tuts piano terbaik dalam balutan ragam oktaf yang harmonis
mainkanlah, petiklah melodi melodi kord manismu
tertawalah, duhai dirijen yang mengatur alunan musik
tongkat kayumu mengatur tempo dan nada
rangkailah ia, kata..
dengan pena, perkamen dan tinta
kicaumu, salinlah setiap suara
tenor, sophran, mezzosophran
harmonisasikanlah
ungkapkan semua, ciptakan seni terindah nyanyianmu, nadamu dalam pena
sertiap ekspresi yang terlahir, memadu kata yang terukir
ukiran kata, menuai takdir, bingkis ia dalam tempatan
perasaanmu, hatimu saat ini
usaplah semua,
bayangkanlah cinderella, imajinasikan
bernyanyi, berdendang riang dalam terpaan langit senja di perbukitan kecil
konstrusikanlah dalam kata mu
setiap nyanyian, siul renguh yang merdu
menjadi padu dalam kalimat yang tertata, terikat dalam bait
menuju arti, menuju syair
dalam setiap nyanyian, syair
adalah karunia ekspresi rasa,
selayaknya
membuat cita-cita seakan lebih dahulu nyata
Mendulang Rasa di Parit Kosong
Malam, tolonglah aku. aku disini, terjaga dalam pilu meretas haru, tanpa malu. aku terkapar, kalah atas gelisah, terjerembab resah yang tak bersudah.
rasaku terikat rantai, keras sekali. sementara kian hari tak jua pula mengendur. rasa ini kian membesar. harus ku haturkan pada siapa? dera apa? lekas bagaimana?
derita. derita. derita. derita. derita. derita.
kemanakah pelita duhai malam? inikah segaris buai yang kau bicarakan itu? berikanlah aku cercah nya, aku masih terkapar disini malam. buta dalam raba, tuli di tengah irama, menyakitkan sekali. parau sudah suaraku malam ini, parau sekali.
enggan sudah aku bersuara, sebab tiap gelap aku menghabiskannya. ramai disini, disana, semua. terkecuali diriku malam. terkecuali aku. tersudut dalam salah dan ketidakberdayaan. kemanakah kreativitas? di fikir ini aku tetap terpaku. menempuh tapak dengan berlari, namun sebenarnya masih di sudut ini.
aku adalah jalang, durja, keladi rendah yang tertumpuk pasir hitam.
rasaku adalah parit besar, tetapi kosong, kering tanpa air.
semua derita, siksa, ketidakberdayaan sedari kemarin, lalu adalah hingga,
esok, lusa, lusa, atau sampai kapanpun. semua mungkin akan seperti ini. akan diisi dengan tinta dan curah yang tidak berbeda. perjuangan ini, aku tertatih, merangkak dan tertusuk.
aku terus lakukan, mungkin hingga waktu, ku tunggu. akan kutunggu, aku akan tetap bertahan. menjaga parit rasa yang kosong ini.
karena ku percaya suatu saat nanti.
kesabaran pasti akan berbuah manis.
rasaku terikat rantai, keras sekali. sementara kian hari tak jua pula mengendur. rasa ini kian membesar. harus ku haturkan pada siapa? dera apa? lekas bagaimana?
derita. derita. derita. derita. derita. derita.
kemanakah pelita duhai malam? inikah segaris buai yang kau bicarakan itu? berikanlah aku cercah nya, aku masih terkapar disini malam. buta dalam raba, tuli di tengah irama, menyakitkan sekali. parau sudah suaraku malam ini, parau sekali.
enggan sudah aku bersuara, sebab tiap gelap aku menghabiskannya. ramai disini, disana, semua. terkecuali diriku malam. terkecuali aku. tersudut dalam salah dan ketidakberdayaan. kemanakah kreativitas? di fikir ini aku tetap terpaku. menempuh tapak dengan berlari, namun sebenarnya masih di sudut ini.
aku adalah jalang, durja, keladi rendah yang tertumpuk pasir hitam.
rasaku adalah parit besar, tetapi kosong, kering tanpa air.
semua derita, siksa, ketidakberdayaan sedari kemarin, lalu adalah hingga,
esok, lusa, lusa, atau sampai kapanpun. semua mungkin akan seperti ini. akan diisi dengan tinta dan curah yang tidak berbeda. perjuangan ini, aku tertatih, merangkak dan tertusuk.
aku terus lakukan, mungkin hingga waktu, ku tunggu. akan kutunggu, aku akan tetap bertahan. menjaga parit rasa yang kosong ini.
karena ku percaya suatu saat nanti.
kesabaran pasti akan berbuah manis.
Macet, Filosofi dan Hikmahnya
(sebuah opini singkat)
Macet, setiap jam, waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun.
Setiap tahun, bulan, tanggal, hari, waktu dan jam terjadi kemacetan.
Tentu kita semua pernah menghabiskan waktu di perjalanan, dan pasti sebagian kecil dari perjalanan tersebut diisi oleh macet. Motor dan mobil yang berkonflik, saling serobot, salip sana dan sini. Dan setiap detik pula dalam kemacetan itu ada caci maki, klakson, knalpot, hawa panas mesin, ataupun bau kopling yang semakin menyengat.
| Ketidakaturan akibat kemacetan, ruarr biasa! |
Berbagai penelitian dilakukan untuk melihat apa yang menjadi penyebab kemacetan ataupun dampak dari kemacetan tersebut. Mulai dari buruknya sistem pengaturan lalu-lintas, pelanggaran oleh pengendara kendaraan bermotor, hingga membludaknya jumlah kendaraan yang mengisi jalanan yang tidak bisa diperluas lagi.
semakin hari, jalanan semakin macet, aktivitas rutin harian, kuliah, bekerja, sekolah, maupun sekadar jalan-jalan saja pun menjadi tidak menyenangkan. Roda dua, tiga, empat sampai delapan pun tetap tidak nyaman berada dalam satu tempat, ditemani dengan asap dan deru mesin. Siapa yang betah dengan keadaan ini?
Rasanya kepingin sekali ketika macet saya luncurkan tomahawk untuk meluluhlantakkan jalan dan jatuhlah kendaraan (terlebih yang melanggar dan gemar meng-klakson)
Namun dibalik saat-saat kemacetan terkutuk itu, terdapat sisi sebenarnya penting dan patut diperhatikan.
Ketika macet, semua orang terburu lepas dari kemacetan tersebut. Ketika dirasa tak sabar menunggu lagi, secara sadar maupun tak sadar mereka melanggar. Naluri individu mereka mencuat, mereka hanya ingin menerobos dan tancap gas. Disitulah individualitas mereka timbul, berkendara seperti bermain catur, salip sana sini. Sebetulnya aturan salip sansin(kependekan dari sana-sini) ini tidak ada dalam undang-undang lalu lintas maupun perda yang bersangkutan, tetapi ini masalah etika dan menghargai orang lain yang perlu dijunjung. Kita akui bahwa semua orang memang punya tujuan masing-masing. Kita hargai tujuan itu, dan tetaplah berpegang pada etika dan toleransi. Bukan memberhalakan kepentingan pribadi maupun emosi saja. Toh diantara peliknya kemacetan yang ada di suatu jalan pasti ada titik akhir, kecuali anda berada diantara penampungan kendaraan.
Dari kebiasaan toleransi, menghargai etika dan ketentuan yang ada itulah sebenarnya bisa diaplikasikan ke dalam hal yang lain. Bukan hanya sekadar kemacetan saja, tapi bersosialisasi, berpolitik, maupun belajar. Sehingga keteraturan perlahan menggeser ketidakteraturan, dan moral menggeser amoral, kolektivitas dan toleransi menggeser individualitas dan liberalisme yang tak terbatas.
Tentunya semuanya dimulai dari hal yang kecil, makna yang besar dipupuk dari tunas. Bukankah benar begitu?
Langganan:
Postingan (Atom)