rasaku terikat rantai, keras sekali. sementara kian hari tak jua pula mengendur. rasa ini kian membesar. harus ku haturkan pada siapa? dera apa? lekas bagaimana?
derita. derita. derita. derita. derita. derita.
kemanakah pelita duhai malam? inikah segaris buai yang kau bicarakan itu? berikanlah aku cercah nya, aku masih terkapar disini malam. buta dalam raba, tuli di tengah irama, menyakitkan sekali. parau sudah suaraku malam ini, parau sekali.
enggan sudah aku bersuara, sebab tiap gelap aku menghabiskannya. ramai disini, disana, semua. terkecuali diriku malam. terkecuali aku. tersudut dalam salah dan ketidakberdayaan. kemanakah kreativitas? di fikir ini aku tetap terpaku. menempuh tapak dengan berlari, namun sebenarnya masih di sudut ini.
aku adalah jalang, durja, keladi rendah yang tertumpuk pasir hitam.
rasaku adalah parit besar, tetapi kosong, kering tanpa air.
semua derita, siksa, ketidakberdayaan sedari kemarin, lalu adalah hingga,
esok, lusa, lusa, atau sampai kapanpun. semua mungkin akan seperti ini. akan diisi dengan tinta dan curah yang tidak berbeda. perjuangan ini, aku tertatih, merangkak dan tertusuk.
aku terus lakukan, mungkin hingga waktu, ku tunggu. akan kutunggu, aku akan tetap bertahan. menjaga parit rasa yang kosong ini.
karena ku percaya suatu saat nanti.
kesabaran pasti akan berbuah manis.
kesabaran akan berbuah manis! Amin..
BalasHapus