Macet, Filosofi dan Hikmahnya

(sebuah opini singkat)
Macet, setiap jam, waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun.

Setiap tahun, bulan, tanggal, hari, waktu dan jam terjadi kemacetan.
Tentu kita semua pernah menghabiskan waktu di perjalanan, dan pasti sebagian kecil dari perjalanan tersebut diisi oleh macet. Motor dan mobil yang berkonflik, saling serobot, salip sana dan sini. Dan setiap detik pula dalam kemacetan itu ada caci maki, klakson, knalpot, hawa panas mesin, ataupun bau kopling yang semakin menyengat.
Ketidakaturan akibat kemacetan, ruarr biasa!
Berbagai penelitian dilakukan untuk melihat apa yang menjadi penyebab kemacetan ataupun dampak dari kemacetan tersebut. Mulai dari buruknya sistem pengaturan lalu-lintas, pelanggaran oleh pengendara kendaraan bermotor, hingga membludaknya jumlah kendaraan yang mengisi jalanan yang tidak bisa diperluas lagi.
semakin hari, jalanan semakin macet, aktivitas rutin harian, kuliah, bekerja, sekolah, maupun sekadar jalan-jalan saja pun menjadi tidak menyenangkan. Roda dua, tiga, empat sampai delapan pun tetap tidak nyaman berada dalam satu tempat, ditemani dengan asap dan deru mesin. Siapa yang betah dengan keadaan ini?
Rasanya kepingin sekali ketika macet saya luncurkan tomahawk untuk meluluhlantakkan jalan dan jatuhlah kendaraan (terlebih yang melanggar dan gemar meng-klakson)
Namun dibalik saat-saat kemacetan terkutuk itu, terdapat sisi sebenarnya penting dan patut diperhatikan.
Ketika macet, semua orang terburu lepas dari kemacetan tersebut. Ketika dirasa tak sabar menunggu lagi, secara sadar maupun tak sadar mereka melanggar. Naluri individu mereka mencuat, mereka hanya ingin menerobos dan tancap gas. Disitulah individualitas mereka timbul, berkendara seperti bermain catur, salip sana sini. Sebetulnya aturan salip sansin(kependekan dari sana-sini) ini tidak ada dalam undang-undang lalu lintas maupun perda yang bersangkutan, tetapi ini masalah etika dan menghargai orang lain yang perlu dijunjung. Kita akui bahwa semua orang memang punya tujuan masing-masing. Kita hargai tujuan itu, dan tetaplah berpegang pada etika dan toleransi. Bukan memberhalakan kepentingan pribadi maupun emosi saja. Toh diantara peliknya kemacetan yang ada di suatu jalan pasti ada titik akhir, kecuali anda berada diantara penampungan kendaraan.
Dari kebiasaan toleransi, menghargai etika dan ketentuan yang ada itulah sebenarnya bisa diaplikasikan ke dalam hal yang lain. Bukan hanya sekadar kemacetan saja, tapi bersosialisasi, berpolitik, maupun belajar. Sehingga keteraturan perlahan menggeser ketidakteraturan, dan moral menggeser amoral, kolektivitas dan toleransi menggeser individualitas dan liberalisme yang tak terbatas.
Tentunya semuanya dimulai dari hal yang kecil, makna yang besar dipupuk dari tunas. Bukankah benar begitu?