Aku melihat titik cerah dari gua yang terus ku lalui, gua dingin nan gelap dari permasalahan dan penyakit yang melanda sekitarku, kini ku berdiri dan diam di kala tangis dan ratap para jelata menadah tangan dari setitik harapan yang kami bawa sebagai seorang utusan utusan bagi perubahan. Mataku bersemangat, berapi-api namun bingung, kini para rekan seakan memalingkan muka dari Lumpur hina yang harus di singkirkan, ada pula yang berusaha merintangi dengan merentangkan tangan untuk jalan kami menembus cahaya.
Perpaduan kami seakan hanya menjadi seonggok slogan hina, mereka hanya membawa slogan tersebut sebagai sabuk emas yang mereka bawa untuk melenakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Namun tak pernah terpercik rasa memiliki dan bertindakdari segala dinamika yang terjadi. Dan sekarang aku harus melawan, untuk sebuah satu titik tujuan yang sangat membawa harapan. Aku singkirkan onak duri bagi orang orang yang kian apatis, mereka hanya seonggok kotoran kucing yang harus diberangus. Ini tidak boleh ada di dunia karena kita tercipta untuk berbagi dan mengabdi, dan senantiasa detak nafas ini bukan hanya milik pribadi. Namun juga untuk setiap yang membutuhkannya. Untuk pengabdian terhadap takdir yang lebih luas. Kusiapkan tangan ini terkepal, kaki ini menjejak keras untuk hari esok yang lebih baik, tak hanya untuk ku, namun juga untuk orang orang yang berdiri dan berjalan di sekitarku.
Perpaduan kami seakan hanya menjadi seonggok slogan hina, mereka hanya membawa slogan tersebut sebagai sabuk emas yang mereka bawa untuk melenakan mata bagi siapapun yang melihatnya. Namun tak pernah terpercik rasa memiliki dan bertindakdari segala dinamika yang terjadi. Dan sekarang aku harus melawan, untuk sebuah satu titik tujuan yang sangat membawa harapan. Aku singkirkan onak duri bagi orang orang yang kian apatis, mereka hanya seonggok kotoran kucing yang harus diberangus. Ini tidak boleh ada di dunia karena kita tercipta untuk berbagi dan mengabdi, dan senantiasa detak nafas ini bukan hanya milik pribadi. Namun juga untuk setiap yang membutuhkannya. Untuk pengabdian terhadap takdir yang lebih luas. Kusiapkan tangan ini terkepal, kaki ini menjejak keras untuk hari esok yang lebih baik, tak hanya untuk ku, namun juga untuk orang orang yang berdiri dan berjalan di sekitarku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar