Harapan Saya

hanya duduk sendiri disini, berbicara tentang kebingungan. aku hanya sedikit merasakan euforia dalam kejadian lalu yang banyak tawa, banyak cerita, banyak dikenang. aku mau semuanya, semua yang orang ambil untuk canda mereka dan apa yang ingin mereka tangisi dalam ketidakmampuan mereka. aku mau hari ini, aku mau hari esok tidak berjalan normal, aku hanya ingin menyendiri sekarang.
Sementara langit kian naik, bulan kian sunyi dan tenggelam dalam igaunya. Kambali lagi kepada hari yang biasa. Yang sudah lalu sekian ribu jam lamanya. Aku semakin mondar-mandir kesana kemari. Mencari sejumput sesuatu yang apa itu tak kuketahui.alunan lagu cengeng kian terdengar, kini semakin menjadi, hati seakan pecah dari cangkangnya dan hambur entah kemana. Tidak gelisah, tidak juga tenang, semuanya serba setengah, namun aku sendiri yang terus meromantisasikannya. Semua orang tertawa, haha. Haha. Dan haha lagi.
Aku tak mengincar emas dari suatu keadaan. Tak pula mencari arti yang sudah hilang berlalu, semakin dewasa, semakin jadi, tak tahu apa yang ingin kutemui. Keadaan ini membuat setiap jejak sepatuku semakin tipis, hingga menunggu sedetik waktu untuk bertelanjang kaki dan merasakan duri, duri yang benar benar seperti duri.
Aku mau mati, mati mengingatkanku pada gelap dan hanya gelap lagi. Mungkin disana dingin, tetapi mungkin hatiku bisa hangat. Disana sempit dan tidak ada keabadian. Namun aku merasa luas. Sarafku merasa tenang disana. Namun alangkah bodohnya lagi, aku membicarakan perihal ketakutan setiap nyawa, nyawa yang dipanggil tuhannya. Dan aku pula tak pernah sedikitpu mengecapnya.
Saat aku menulis ini, aku kembali pada diksi yang sama, kata, rima, bait dan simpul sajak yang sama. Aku ingin yang benar-benar baru. Aku ingin yang benar-benar hidup, aku ingin seperti ini, selayak perkataan khatib salah yang berkata saat jumat minggu ketiga, “hidup segan mati tak mau,”. Dunia ini semakin sempit ku tinggali, padahal tidak lebih dari satu dasawarsa disini, tak pula bertualang jauh dielu dunia yang sebenarnya besar.
Aku ingin saat kembali ku membaca sajak ini, aku berteman dengan tawa, aku bermusuhan dengan tangis, aku melawan gelisah dan mencampakkan kebingungan. Aku mau aku menghancurkan senyap, meludahi virus abadi yang datang dikala senyum,salam,sapa,manis,bibir,dan igauan wanita yang ku puja tidak menghiasi satu hari ini. aku hanya mau dirimu, itu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar