Sekedar Berbicara Dalam Sastra

lampu jalan terang, satu jam setelah petang jakarta. bayangan tampak jelas.
orang disana.
orang itu hina,  menyusur jejak rapuh dengan tersungkur. hembusan angin malam kian merontokkan setiap sendi tulang yang ia panggul-di trotoar ia terduduk. melipat lutut, sembari menghitung bulu tubuhnya yang tetap tebal. pekerjaan yang dilakukannya tetaplah ada...namun tidak pada hasil yang didapatnya.
satu batang rokok, ia hisap dalam-dalam.. .
bibirnya yang masih kuat, selaras dengan nadi yang kencang. namun nyalinya tak kian bangun untuk sekadar menyapa.
sepintas cakrawala, persinggahan dunia yang ganas.entah apa fikirnya, namun kini orang-orang itu terbuang, antara piasnya harapan yang mereka bangun, runtuh dalam satu tipuan lembut..
mentari timbul.
kini ia hanya rebah,
meringkuk erat menahan dingin. yang saat ini memang bermusim..
ia bangkit. seraya mengambil batang kedua rokoknya. membakarnya dengan api yang bersulut-sulut..
teringat dulu bersama keluarganya, beserta keponakan yang masih ditimangnya.
tidak ada lagi,
tidak,
tetap ada,
keniscayaan dunia, atas harapan yang selama ini dibawanya, habis sudah.
tak ada yang dikejar lagi, kini ia muda, bebas, namun terbuang,
hidupnya kuat, tetapi lemah pada naluri, yang berpijak pada emosi,
diperkosa prinsipnya dengan realita yang sama sekali tak terduga
yang membuat kepecundangan semakin ingin terus melekat padanya..
satu rokok, batang terakhir, kali ini..
ia hisap lagi, sampai pada hisapan terakhir.

- Pejaten, 1 februari 2011; pukul 23:19 WIB -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar