Meneliti kepalsuan, kini ku telungkup bersujud menyentuh tanah.. mencium wangi kebijaksanaan yang terkubur dalam sekali. Ku genggam dan ku telisik tiap emosi yang dikeluarkannya. Kenapa semakin terpendam, sejenak ku menatap langit..dalam buaian biru kerap menggembala awan agar berjalan dalam garis yang tetap, ku lemparkan raga ini melayang jauh, tinggi ku raba semburat siluet cakrawala akibat bias bumi. Kini..
Kucari sudut-sudut keramaian, kulihat cengkrama manusia sang serigala yang selalu lapar. Kudengar sayup2 tawa palsu dari mereka. Sesaat ketika hati mereka yang berserak menjadi keping.. dalam tapal jejak langkah mereka yang teguh, kurasa nuansa keraguan dan kegelisahan dalam jemari kaki yang terlindung dari sandal sepatu mereka yang menyeret,
pandangan ini berpaling, kepada para gelandang yang meringkuk rapuh dalam lindungan timbun sampah yang hilang tersapu angin malam. Kutatap lekat wajah mereka, terlihat keriput2 dan gumpalan debu, menyelinap tatap hina mereka pada dunia, di mana mereka disingkirkan atas fikir kemanusiaan yang terus mereka pertahankan. Terjahit mulut mereka, luka dalam diri mereka yang semakin akut tak membuat apa yang mereka pegang merapuh… beri mereka sejuta istana dan tahta memuakkan, niscaya mereka akan menepis untuk apa yang mereka hadapi. Ketika kumis dan jenggot mereka tumbuh liar, tak jua mereka singkirkan, karena ini adalah hiasan terindah mereka untuk sebuah perumpamaan dari apa yang mereka pegang seteguh karang. Kebijaksanaan lah yang menentukan segalanya, kemampuan untuk melihat sebuah putih dari lautan keburukan yang terus menghitam. Biarlah kaki tangan mereka lumpuh, namun hati tetap berada dalam aral yang terus mereka daki, sungguh pelajaran berharga yang sangat menyenangkan…
Kucari sudut-sudut keramaian, kulihat cengkrama manusia sang serigala yang selalu lapar. Kudengar sayup2 tawa palsu dari mereka. Sesaat ketika hati mereka yang berserak menjadi keping.. dalam tapal jejak langkah mereka yang teguh, kurasa nuansa keraguan dan kegelisahan dalam jemari kaki yang terlindung dari sandal sepatu mereka yang menyeret,
pandangan ini berpaling, kepada para gelandang yang meringkuk rapuh dalam lindungan timbun sampah yang hilang tersapu angin malam. Kutatap lekat wajah mereka, terlihat keriput2 dan gumpalan debu, menyelinap tatap hina mereka pada dunia, di mana mereka disingkirkan atas fikir kemanusiaan yang terus mereka pertahankan. Terjahit mulut mereka, luka dalam diri mereka yang semakin akut tak membuat apa yang mereka pegang merapuh… beri mereka sejuta istana dan tahta memuakkan, niscaya mereka akan menepis untuk apa yang mereka hadapi. Ketika kumis dan jenggot mereka tumbuh liar, tak jua mereka singkirkan, karena ini adalah hiasan terindah mereka untuk sebuah perumpamaan dari apa yang mereka pegang seteguh karang. Kebijaksanaan lah yang menentukan segalanya, kemampuan untuk melihat sebuah putih dari lautan keburukan yang terus menghitam. Biarlah kaki tangan mereka lumpuh, namun hati tetap berada dalam aral yang terus mereka daki, sungguh pelajaran berharga yang sangat menyenangkan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar