Kampus Bangsa, Kampus Derita

di suatu keadaan malam ketika saya duduk sendiri, di depan gedung olahraga kampus saya (gymnasium). tepat jam 12 malam saya disini, duduk di trotoar jalam yang sepi, tersisa bising kecil pekerja bangunan yang berkeringat karena terus menggali diterpa angin malam..
sebelumnya saya berjalan pelan menyusur malam, saat itulah terfikir apa arti sebenarnya kehadiran saya di kampus ini, untuk apa dan siapa saya menimba ilmu disini. sekilas balik dahulu teringat akan pragmatisme saya untuk memasuki kancah pendidikan tinggi. dan kini perasaan tersebut pun hilang, terkunci bagai kotak pandora yang tak pernah terkuak kembali..
kampus ini megah dan indah, serta selalu menjadi apa yang didambakan hampir setiap muda di indonesia.

NAMUN TIDAK UNTUK NYATANYA!

kini borok di dalam semakin membusuk, limbah kapitalisasi dan liberalisasi menyeruak menghantar maut. setiap jajaran kian tertuju untuk memangsa, menghina dan mencaci.
dalam kepentingan bersama, siapa peduli??
semua membungkus tanduk setan mereka dengan lingkaran cerah sang malaikat, serupa dengan apa yang terjadi di luar sana. seperti replika kecil dari bentuk asli yang besar, tidak ada, tidak ada bedanya..
tidak ada lagi idealisme, semboyan kini hanya menjadi candu untuk mereka menjaring harapan dari kebodohan yang tersembunyi. sementara yang mengetahui, bungkam seribu bahasa, gila, sungguh gila..
sepintas saya melihat bapak tua yang renta, memikul sampah di pundaknya, berjalan pelan menanjak, terlihat peluhnya kelelahan, mungkin ia tahu, ia sedang berjalan di kampus rakyat, kampus di mana orang-orang besar negeri lahir, bukan untuk meminta kasihan tampaknya. tetapi ia datang untuk menyindir, bahwa tiadalah guna suatu emasnya pendidikan tanpa ilmu. tiadalah artinya suatu nama besar hadir dan memikat, tapi masih terdengar tangis sekitar tidak berhenti.

apa?

apa tujuanmu?

saya hanya segolongan minoritas, atau mungkin individu di tengah  ruang padat  heterogen tetapi  kaya akan dominasi dari manusia yang terus berada dalam kenyamanan mereka. kampus ini perlu kawanan serigala, yang berkawan, bekerja sama untuk semua. bukan hanya sekedar rusa yang terus berlari melenguh dari kejaran sang pemangsa.
saya akan terus bergerak, menggeliat, dan berteriak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar